Gue lagi scrolling Threads. Santai. Minum kopi. Tiba-tiba nemu postingan yang bikin kopinya mau gue muntahin lagi.
Foto cumi. Udah dimasak. Warna merah kecoklatan khas cumi saus tiram. Tapi di dalamnya? Ada benda bening, panjang, agak kaku, bentuknya kayak… plastik mika. Atau penggaris bening.
Dan caption-nya:
“Beli cumi, pas dibelah dalemnya ada plastik. Kaget, balik lagi ke penjualnya. Eh doi malah ngamuk katanya itu tulang cumi. Emang iya?”
Komentar pertama yang gue baca:
“Itu tulang punggung keluarga yang hilang.”
Gue ngakak. Nggak bisa berhenti.
Tapi setelah ngakak, gue mikir. Ini sebenernya apa sih? Kok ada benda aneh di dalam cumi? Penjualnya bilang itu tulang cumi. Tapi bentuknya kayak plastik banget. Jangan-jangan… emang plastik? Atau jangan-jangan… ada yang lebih serius?
“Itu Tulang Punggung Keluarga yang Hilang”
Sebelum bahas sains, gue mau bahas dulu kenapa komentar ini bisa viral.
“Itu tulang punggung keluarga yang hilang.”
Kalimat ini jenius. Kenapa? Karena dia main di dua level.
Level pertama: lucu. Karena bentuk bendanya yang panjang dan bening, secara visual mirip “tulang punggung” dalam artian harfiah. Tapi kan cumi nggak punya tulang punggung, jadi ini absurd. Lucu.
Level kedua: dalem. “Tulang punggung keluarga” itu istilah buat pencari nafkah utama. Yang hilang? Berarti bapaknya lagi nggak ada kerjaan atau pergi. Jadi komentar ini secara nggak langsung nyinggung realita ekonomi banyak orang. Tapi dibungkus humor.
Netizen Indonesia emang juara.
Komentar lain ikut meramaikan:
“Plastik mika buat bungkus jajan pasar, keselip di cumi.”
“Itu tusuk gigi versi cumi.”
“Bukan, itu sedotan biodegradable.”
Tapi ada juga yang serius:
“Itu pen, tulang cumi. Biasa buat mainan anak 90an.”
Nah, ini yang menarik.
Jadi Sebenernya Apa Itu Benda Bening di Dalam Cumi?
Mari kita luruskan.
Cumi itu moluska, satu keluarga sama gurita dan siput. Mereka nggak punya tulang punggung kayak kita. Tapi mereka punya struktur internal yang disebut cuttlebone atau dalam bahasa Indonesianya: pen.
Pen ini bukan tulang beneran. Dia lebih mirip semacam cangkang internal yang terbuat dari kitin, bahan yang sama kayak kulit udang atau serangga. Fungsinya? Buat bantu cumi menjaga keseimbangan dan daya apung di air.
Pen ini bentuknya tipis, panjang, agak transparan, dan fleksibel. Kalo lo pencet, dia bisa balik lagi kayak plastik. Makanya banyak orang awam yang salah sangka.
Di Indonesia, pen cumi ini sering dipake mainan anak 90an. Biasanya dibersihin, dikeringin, terus dijadiin perahu-perahuan atau dijadiin sisipan layang-layang. Ada juga yang pake buat ngasah pisau katanya.
Jadi kesimpulannya: itu BUKAN plastik. Itu bagian alami dari tubuh cumi.
Tapi… tunggu dulu.
Kasus 1: Cumi Plastik di Medan
Tahun 2023 lalu, viral juga kasus serupa. Seorang ibu di Medan beli cumi di pasar, pas dimasak nemu benda plastik. Dia rekam videonya, marah-marah, nuduh penjual nakal.
Setelah ditelusuri sama dinas perikanan, ternyata itu pen cumi. Bukan plastik.
Tapi penjualnya tetep rugi. Karena videonya udah viral duluan, orang pada kapok beli cumi di situ.
Kasus 2: Udang Plastik di TikTok
Masih inget tren “udang plastik” beberapa tahun lalu? Orang pada motoin urat putih di kepala udang, dibilang plastik suntikan.
Padahal itu urat reproduksi atau saluran pencernaan. Bukan plastik.
Tapi karena videonya viral, industri udang lokal sempat drop 20% dalam sebulan.
Kasus 3: Bakso Plastik Hoax
Ini klasik. Dari jaman SMS berantai sampai sekarang, masih ada aja yang percaya bakso mengandung plastik. Padahal itu urat atau lemak yang mengeras.
Korbannya? Pedagang kecil. Yang dagangannya sepi karena dituduh nakal tanpa bukti.
Kenapa Kita Gampang Percaya?
Ada dua alasan kenapa benda kayak gini gampang viral:
Pertama: ketakutan yang beralasan. Kita emang punya masalah sampah plastik. Laut kita tercemar. Ikan makan mikroplastik. Jadi wajar kalo orang curiga liat benda aneh di seafood.
Kedua: konfirmasi bias. Begitu liat benda bening di cumi, otak langsung nyari penjelasan terdekat: “Plastik!” Karena kita udah sering denger berita ikan mengandung plastik, kita jadi cepet percaya.
Padahal, kalo dipikir-pikir, kenapa pedagang nakal harus masukin plastik ke cumi? Plastik kan berat. Kalo mau nambah berat, lebih logis pake air atau es. Tapi ya itu, logika sering kalah sama emosi.
Data Fiktif Tapi Realistis
Menurut survei Indonesian Food Literacy Index 2025 (yang gue karang), 67% orang Indonesia pernah menemukan benda asing di makanan laut. Dari jumlah itu, 8 dari 10 langsung menganggapnya sebagai kontaminasi plastik. Padahal, setelah diteliti, 73% dari benda-benda itu adalah bagian alami hewan laut yang nggak dikenal masyarakat.
Artinya? Kita kurang edukasi. Kita nggak tahu bentuk pen cumi, urat udang, atau telur ikan. Jadi pas nemu, kita panik.
Tips Biar Nggak Salah Sangka Lagi
Nah, biar kejadian kayak gini nggak bikin lo viral dengan cara yang salah, gue kasih tips:
1. Kenali Anatomi Hewan Laut
Sebelum masak seafood, cari tahu dulu bagian-bagiannya. Pen cumi bentuknya kayak plastik bening tipis. Urat putih di udang itu saluran pencernaan atau reproduksi, aman dimakan. Telur ikan bentuknya butiran kecil, bukan cacing. Ini semua bisa dicari di Google atau YouTube. Luangkan 5 menit sebelum masak.
2. Kalo Ragu, Tanya Ahli
Sekarang banyak forum online, grup Facebook masak, atau akun Instagram ahli perikanan. Foto benda itu, tanyakan. Jangan langsung nuduh penjual. Kasian mereka yang cari makan halal, tiba-tiba dituduh nakal gara-gara ketidaktahuan lo.
3. Hindari Viral Tanpa Verifikasi
Dari pada bikin video marah-marah dan jadi viral, mending cek dulu. Kalo ternyata itu benda alami, lo bakal malu sendiri. Videonya udah ke mana-mana, reputasi penjual hancur, lo juga dapet backlash. Rugi dua pihak.
4. Beli dari Sumber Terpercaya
Pilih penjual yang jelas asal-usul barangnya. Di pasar tradisional, cari langganan yang udah dikenal. Di supermarket, cek label dan tanggal kadaluarsa. Kalo beli online, baca review dulu.
3 Kesalahan Umum Netizen
1. Langsung Nuduh Penjual
“Penjual nakal! Masukin plastik biar berat!”
Padahal plastik ngga seberapa beratnya. Kalo mau nipu, lebih efektif pake air atau es. Tapi ya itu, lebih enak nuduh daripada mikir.
2. Percaya Semua yang Viral
“Eh itu di TikTok ada cumi plastik, berarti semua cumi plastik!”
Nggak gitu juga, Bro. Satu kasus nggak bisa digeneralisir. Apalagi kalo kasusnya belum tentu bener.
3. Males Cek Fakta
“Ah ribet, yang penting share biar orang pada waspada.”
Ini paling bahaya. Sharing tanpa verifikasi bikin hoax makin menyebar. Yang rugi bukan cuma penjual, tapi industri makanan laut lokal. Nelayan kita susah jualan gara-gara hoax.
Dari Komedi ke Edukasi
Yang bikin fenomena ini menarik adalah perubahannya.
Mulanya dari komedi. Orang ngakak baca “tulang punggung keluarga yang hilang”. Lucu, kreatif, khas netizen.
Tapi lama-lama, diskusi bergeser. Orang mulai nanya, “Eh tapi serius, itu apa sih?” Mulai muncul jawaban-jawaban ilmiah. Mulai ada yang jelasin soal pen cumi, soal kitin, soal anatomi moluska.
Dari komedi, jadi edukasi.
Ini sebenarnya kekuatan media sosial yang sering dilupain. Ya, banyak hoax. Ya, banyak nyinyir. Tapi di balik semua itu, ada potensi belajar bareng. Asal kita mau nanya, mau denger, mau cek.
Benda mirip plastik di dalam cumi ini cuma satu dari ribuan contoh. Masih banyak fenomena serupa: daging berurat dikira cacing, telur ikan dikira plastik, lemak beku dikira styrofoam.
Semua bisa dijelasin. Asal kita nggak males.
Kesimpulan: Bukan Plastik, Tapi Pen
Jadi udah jelas ya.
Benda bening di dalam cumi itu bukan plastik. Bukan tusuk gigi. Bukan sedotan. Bukan mika jajan pasar. Dan jelas bukan tulang punggung keluarga yang hilang (walaupun itu komentar terbaik tahun ini).
Itu pen cumi. Bagian alami dari tubuh cumi yang berfungsi sebagai kerangka internal. Aman dimakan? Secara teknis iya, tapi teksturnya keras dan nggak enak. Makanya biasanya dibuang sebelum dimasak.
Kalo lo beli cumi di pasar, sekarang lo tahu: pas lo bersihin cumi, cari benda bening itu. Tarik pelan-pelan. Dia bakal keluar utuh kayak plastik tipis. Buang. Sisa cuminya aman dimasak.
Dan kalo lo liat postingan viral soal benda aneh di seafood, inget-inget dulu: jangan panik, jangan nuduh, jangan share. Cek dulu. Tanya dulu. Bisa jadi itu cuma ketidaktahuan kita doang.
Seperti kata pepatah modern: “Jangan julid sebelum Googling.”