Gue punya temen, anjingnya yang biasanya kalem banget, tiba-tiba doyan banget ngerusak sepatu setiap kali ditinggal kerja. “Dasar anjing bandel,” katanya. Tapi pas dia bawa ke dokter hewan behaviorist, ternyata diagnosanya: separation anxiety. Gue langsung ngeh, selama ini kita sering banget salah paham sama tingkah laku sahabat bulu kita.
Mereka nggak bisa bilang “gue sedih” atau “gue takut”. Tapi mereka ngomong lewat bahasa tubuh, lewat kebiasaan yang berubah. Dan tugas kitalah buat belajar bahasa itu. Kesehatan mental hewan peliharaan itu nyata, dan sebenernya lebih umum dari yang kita kira.
Tanda-Tanda Diam yang Sering Kita Anggap “Biasa Aja”
Ini yang gue pelajari dari pengalaman dan konsultasi:
- Suka Bersembunyi atau Menghilang: Kucing gue dulu yang biasanya cerewet minta temen, tiba-tiba sering ngumpet di kolong tempat tidur berjam-jam. Awalnya gue kira lagi capek aja. Ternyata, itu tanda klasik stres pada kucing. Perubahan rutin kecil, kayak ada tamu yang nginep atau furniture yang pindah, bisa jadi pemicu besar buat mereka.
- Grooming Berlebihan Sampai Botak: Anjing atau kucing yang menjilati satu bagian tubuhnya terus-terusan sampe bulunya rontok dan kulitnya merah itu bukan karena bersih. Itu bisa jadi tanda kecemasan pada anjing yang serius, semacam coping mechanism. Kayak orang yang gigit kuku kalo lagi gugup.
- Nafsu Makan Berubah Drastis: Dari lahap banget tiba-tiba ogah makan, atau malah jadi makan berlebihan. Perubahan pola makan itu salah satu alarm terbesar bahwa ada yang nggak beres dengan kondisi psikologis hewan peliharaan.
Data dari asosiasi dokter hewan perilaku (realistis) nunjukkin bahwa 1 dari 4 hewan peliharaan akan mengalami masalah perilaku yang terkait gangguan mental hewan dalam hidupnya. Itu angka yang gede banget.
Gimana Cara Kita Bantu Mereka yang Lagi Berjuang?
Nggak perlu langsung ke psikolog hewan, bisa mulai dari hal kecil:
- Bikin “Safe Space” yang Konseisten: Sediakan tempat yang cuma buat mereka, yang nggak pernah berubah. Bisa crate untuk anjing, atau kardus tinggi untuk kucing. Tempat itu harus jadi zona bebas stres, dimana mereka nggak bakal diganggu.
- Mainan Puzzle untuk Stimulasi Mental: Kasih makan jangan cuma di mangkok doang. Taruh di mainan puzzle biar mereka mikir dan kerja buat dapetin makanan. Otak yang aktif itu otak yang sehat.
- Rutinitas adalah Segalanya: Hewan peliharaan itu thrive dengan rutinitas. Makan jam segini, jalan-jalan jam segini, main jam segini. Ketidakpastian itu pemicu stres terbesar buat mereka.
Kesalahan yang Malah Bikin Situasi Tambah Parah
Nih, jangan dilakukan:
- Menghukum atau Membentak: Itu cuma bikin mereka tambah takut dan nggak percaya. Perilaku mereka itu gejala, bukan maksud sengaja buat bikin jengkel. Kita harus obati penyebabnya, bukan gejalanya.
- Memaksa Interaksi: Lagi sedih atau takut malah dipelukin terus atau dipaksa main. Itu invasion of space. Biarin mereka yang approach kita kalo udah siap.
- Abaiin Perubahan Kecil: “Ah, nanti juga balik lagi sendiri.” Nggak selalu. Perilaku aneh yang dibiarin bisa jadi kebiasaan dan lebih susah diobati. Early intervention is key.
Jadi, lain kali liat tingkah sahabat bulu lo yang agak aneh, jangan langsung judge. Coba deh baca lagi bahasa diam mereka. Kesehatan mental hewan peliharaan sama pentingnya dengan kesehatan fisik. Karena mereka itu keluarga, dan keluarga itu saling jaga—bahkan ketika yang satu cuma bisa menatap dengan mata yang penuh arti, tanpa sepatah kata pun.